Artikel Perawatan Gigi


PERAWATAN  GIGI  KARIES

RIZCHA RACHMAWATI
D3 KEPERAWATAN MALANG / 1B


Masalah terbesar yang dihadapi penduduk Indonesia seperti juga di negara berkembang lainnya dibidang kesehatan gigi dan mulut yaitu karies gigi. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (2007), sekitar 72,1 % penduduk Indonesia mengalami gigi berlubang. Dengan demikian yang memiliki motivasi untuk menambal gigi berlubang hanya sekitar 1,6% dan ada sekitar 46% penderita belum tertangani.  Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2010 menyebutkan prevalensi karies gigi di Indonesia adalah 90,05% dan di Jakarta, 90% anak mengalami masalah gigi berlubang dan 80% menderita penyakit gusi. Menurut Astoeti (2010), angka ini diduga akan lebih parah lagi di daerah-daerah, serta anak-anak dari golongan ekonomi menengah ke bawah.
Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu bagian dari kesehatan tubuh yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh keseluruhan. Menurut Riset Kesehatan Dasar (2013), gigi merupakan bagian tubuh yang berfungsi untuk mengunyah, berbicara dan mempertahankan bentuk muka, sehingga penting untuk menjaga kesehatan gigi sedini mungkin agar dapat bertahan lama dalam rongga mulut.
Kebersihan gigi dan mulut jika tidak diperhatikan, akan menimbulkan masalah salah satunya kerusakan pada gigi seperti karies atau gigi berlubang. Menurut Erwanal (2013), karies gigi bersifat kronis dan dalam perkembangannya membutuhkan waktu yang lama, sehingga sebagian besar penderita mempunyai potensi mengalami gangguan seumur hidup. Penyakit ini sering tidak mendapat perhatian dari masyarakat dan perencana program kesehatan, karena jarang membahayakan jiwa. Menurut Bechal (2012), pada manusia modern, karies merupakan hal yang biasa, tetapi frekuensi karies berbeda ditiap negeri dan diantara individu itu sendiri, faktor-faktor yang penting untuk di pertimbangkan yaitu, meningkatkan pemakaian pasta gigi, berubahnya pola konsumsi gula, karena karies bergantung pada gula.  Menurut Monang (1996), karies dapat terjadi pada setiap gigi yang erupsi, pada tiap orang tanpa memandang umur, jenis kelamin, bangsa, maupun status  ekonomi.
Mulut merupakan bagian pertama masuknya makanan. Menurut Pratiwi (2013), sebagai bagian tubuh yang langsung bersinggungan dengan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh, rongga mulut termasuk gigi dan ludah rentan terserang penyakit. Sehingga kesehatan gigi dan mulut sangat berpengaruh terhadap kesehatan organ tubuh lain.
Karies gigi merupakan penyakit infeksi yang merusak struktur gigi dan kehilangan fungsinya. Menurut Riset Kesehatan Dasar (2013), karies gigi merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi, yaitui email dentin dan sementum yang disebabkan aktivitas jasa drenik yang ada dalam suatu karbohidrat yang diragikan. Proses terjadinya karies dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi yang berkembang dan menjadi gigi berlubang. Menurut Malik (2008), karies menjadi salah satu bukti tidak terawatnya kondisi gigi dan mulut masyarakat Indonesia. Menggosok gigi merupakan hal mendasar untuk merawat gigi, namun hal itu yang sering diabaikan oleh masyarakat. Sehingga  menyebabkan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, dan infeksi. Penyebab karies salah satunya karena sisa makanan yang menempel pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan. Menurut Pratiwi (2013), upaya yang dapat dilakukan salah satunya dengan menggosok gigi secara teratur dan benar, antara lain dilakukan setelah makan atau saat akan tidur malam.
Karies gigi yang bersifat kronis dan dalam perkembangannya membutuhkan waktu yang lama, sehingga sebagian besar penderita mempunyai potensi mengalami gangguan seumur hidup, atau tidak dapat berfungsi seperti sedia kala. Contohnya gigi yang berlubang parah dan tidak dapat dilakukan penambalan maka gigi tersebut akan dicabut. Menurut Bechal (2012), penyakit ini sering tidak mendapat perhatian dari masyarakat dan perencana program kesehatan, karena jarang membahayakan jiwa.
Perawatan gigi merupakan hal utama yang dilakukan untuk mencegah perluasan daerah karies gigi. Menurut Malik, (2008), perawatan gigi merupakan upaya yang dilakukan agar gigi tetap sehat dan dapat menjalankan fungsinya. Gigi yang sehat adalah gigi yang bersih tanpa adanya lubang dan plak. Namun tidak hanya itu, gigi yang sehat juga akan memancarkan energi positif sehingga pemiliknya menjadi sangat menarik, begitu pentingnya gigi bagi manusia sehingga gigi perlu dirawat dengan benar, pentingnya gigi dirawat adalah salah satu organ penting untuk pencernaan, mengunyah makanan sebelum masuk ke saluran pencernaan. Menurut E. Ristya Widi (2003), bahwa usaha menjaga kebersihan mulut yang terpenting adalah faktor kesadaran dan perilaku pemeliharaan higiene mulut personal. Jika gigi mengalami gangguan, akan terganggu pula proses pencernaan, dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, Sisa makanan yang masih ada di gigi menyebabkan aktivitas bakteri berlebihan sehingga mulut mengeluarkan bau yang kurang sedap. Menurut Malik (2008),  gigi juga berfungsi sebagai keindahan, komponen lain dalam kecantikan selain kulit tubuh, kulit wajah, mata, bibir.
Merawat gigi perlu dilakukan sedini mungkin seperti, gosok gigi minimal 2 kali sehari. Ganti sikat gigi 3-4 bulan sekali, hindari makanan yang banyak mengandung gula dan manis. Menurut Malik (2008), setelah makan biasakanlah untuk makan buah-buahan segar, selain baik untuk kesehatan, seratnya dapat membantu menghilangkan kotoran yang ada di gigi dan gunakan makanan yang seimbang dan kaya kalsium, seperti susu, keju, telur, teri, bayam, katuk, sawi, dan agar-agar untuk membantu memperkuat gigi.











Daftar Rujukan


Astoeti, T E. 2010. Lakukan Perawatan Gigi Menyeluruh (http://www.pdgi-online.com) diakses pada 22 september 2018
Bechal, S.J. 2012. Dasar-dasar karies (penyakit dan penanggulangannya). Jakarta : EGC.
Departemen Kesehatan.(2009) Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta.
Erwanal, Ferry. 2013 . Kesehatan gigi dan mulut. Jakarta: EGC.
Malik, Isnaniah.2008. Kesehatan Gigi dan Mulut. Jakarta: EGC
Monang Panjaitan, 1996. Pengaruh Pemberian Obat Kumur Mengandung Fluor  Pakem, Kabupaten Jember. Journal Kesehatan Gigi Indonesia, 10 (3), 10–13
Pratiwi, Erlita. 2013. Masalah dan solusi penyakit gigi dan mulut. Jakarta: EGC
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2007. Peningkatan Jumlah Kerusakan Gigi, Jakarta
Riskesdas .2007. Riset Kesehatan Dasar, Laporan Nasional Tanjung Gusta, Medan. Cermin Dunia Kedokteran. No. 106, pp: 52-3 terhadap Perkembangan Karies Gigi Narapidana Lembaga Pemasyarakatan
Widi, E.R. 2003.Hubungan Perilaku Membersihkan Gigi terhadap Tingkat Kebersihan Mulut Siswa Sekolah Dasar Negeri Wilayah Kerja Puskesmas Gladak. Jakarta


Komentar

Postingan Populer